Perang Dunia III: Mimpi Presiden Wilson dan New World Order
REPUBLIKA.CO.ID, New order (tatanan baru) menggantikan tatanan dunia sekarang. Itulah 'utopia', di tengah kekacauan hukum internasional kini. Hipotesis konspirasi, dalam bentuk 'euphemisme Unipolar'. Sesungguhnya berwujud totaliter diam-diam, yang merusak konvensi (kesepakatan) suci pasca PD-II.
Venezuela, Iran, Gaza, tiga 'sampling' telanjang, bagaimana kekuatan konspirasi dan Unipolar, merusak seluruh pranata (tatanan) yang telah disepakati bersama. Keberpihakan Unipolar', dan dominasi kekuatan satu kutub, menjadikan pihak yang ingin menyelesaikan konflik berdasar hukum, tertahan.
Totaliter "tersembunyi" (diam-diam), membuat hukum internasional tanpa gigi. Keputusan Dewan Keamanan (DK), Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), Bantuan PBB, status wilayah pendudukan, tak dapat di eksekusi. Pelanggaran tak bisa ditindak.
Dunia, bercermin dari Venezuela, Iran, dan Gaza, kini tengah mengarah pada pemerintahan satu dunia. Kasat mata, posisinya akan menggantikan negara bangsa (nation state) yang berdaulat.
Lewat Venezuela, Iran, dan Gaza yang ditindak sebagai satu kewajaran (norma). Dibuatlah plot totalitarian yang dibungkus berbagai varian argumen yang 'soft'. Namun, tetap saja tidak seimbang.
Ketidakseimbangan geopolitik saat ini, diperankan dua pemain kunci yang saling menopang. AS merupakan satu-satunya negara yang mendominasi tatanan militer, politik, dan ekonomi, tanpa lawan. Sementara, kunci lainnya Israel, berperan semi proxi.
Kematian 72.000 warga Gaza, sesungguhnya bisa diminimalisir, tidak sampai seperempatnya. Memiliki pengaruh signifikan membentuk norma, aturan, dan kebijakan lembaga global (PBB, NATO, dan IMF), AS mestinya bisa melerai sejak dini.
Ketiadaan penyeimbang (No Peer Competitor), dalam perang Israel-Hamas (Gaza), AS terjebak dalam pembelaan tidak win win, berhimpitan dengan posisional dan emosional Israel, yang merasa diserang lebih dulu. Argument clinic-nya, membela diri!
Dalam dunia yang dipenuhi iming-iming, AS sesungguhnya dapat memperingatkan perilaku luar batas Israel. Sekalipun Trump menyadari kuatnya Kongres Yahudi di AS: American Israel Public Affairs (AIPAC), menghormati PBB satu keharusan. AS berperan melahirkan PBB.
AIPAC berperan penting melakukan lobi untuk kepentingan Israel di pemerintahan AS. Hampir setiap Presiden AS yang terpilih berkelindan dengan AIPAC. Lembaga ini mendanai kampanye politik, serta mempengaruhi kebijakan luar negeri AS.
Peran AIPAC juga tidak kecil, untuk memastikan dukungan bipartisan dari dua partai (Republik dan Demokrat) terhadap negara Israel. Hingga, siapa pun pemenang Pemilu AS, bagi AIPAC tak ada perbedaan.
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. ( EPA-EFE/MIGUEL GUTIERREZ)
Tatanan dunia baru (New World Order), tidak bisa lagi dipertahankan. Penangkapan Presiden Nicolas Maduro (Venezuela), merupakan pengebirian terhadap kedaulatan satu negara yang dihormati dalam Piagam PBB. Yang bisa menurunkan Maduro, adalah rakyat Venezuela: lewat Pemilu, atau kudeta.
Terlibat narkoba (kartel), sehingga Maduro layak ditangkap. Diyakini banyak pihak, sebagai stereotipe yang digeneralisasi, bahwa negara Amerika Selatan adalah sarangnya kartel narkoba. Proximity-nya, Maduro beririsan dengan para kartel.
Iran pun begitu. Iran hampir tak pernah memulai perang dengan Israel, apalagi AS. Lanskap Iran adalah, lanskap saat "boneka AS" (Shah Reza Pahlevi) dijatuhkan demo rakyat Iran (1979). AS ingin Iran jadi client-nya.
Brutalitas Shah Reza Pahlevi, membuat rakyat Iran mencari sistem kepemimpinan alternatif. Dari monarki ke teokrasi, yaitu naiknya para Mullah memimpin pemerintahan Iran. Semua berjalan baik, hingga AS menerapkan sanksi ekonomi yang keras.
Pokok pangkalnya, bukan soal kepemimpinan. Lebih ke persoalan hancurnya perekonomian Iran, akibat sikap AS (barat), dengan trigger: pengayaan nuklir.
Perang Dunia III
Obrolan di Warung Kopi kemarin, seorang teman berseloroh. Tatanan dunia yang ada sekarang, sudah hancur. Seperti halnya Perang Dunia II (1945), berhasil membentuk konvensi (tatanan baru) yang melahirkan PBB.
Presiden AS ke-28, Woodrow Wilson (1913-1921), memberi tamsil, pentingnya sebuah mimpi. Dunia dan masyarakatnya tumbuh dan berubah karena mimpi. Mimpi mengubah hal yang stagnasi, menjadi dinamis. Dunia kini membutuhkannya.
Bagaimana dunia bisa berubah, sehingga tercipta tatanan dunia baru (New World Order)? Terlalu banyak kebenaran yang disembunyikan dari Venezuela, Gaza, dan Iran, menjadikan semua berkonklusi tentang psikologi pemimpin yang suka menipu.
Men-declared nuklir Iran sebagai berbahaya, menuding Nicolas Maduro terlibat Narkoba, menjuluki Hamas teroris, adalah outler (gerai) yang terus diembuskan, namun terkesan tidak cover both side (berimbang).
Banyak yang berharap AS jadi menyerang Iran. Banyak yang berpikir, sebaiknya perang AS-Iran memantik Perang Dunia ke-III yang melibatkan Rusia, China, Korea Utara di pihak Iran. Sementara, Eropa di pihak AS. Untuk apa? Sederhana, demi memperbaharui Tatanan Dunia Baru (New Order) yang lebih adil. Sekaligus menguji kekuatan Unipolar' AS.


0 Response to "Perang Dunia III: Mimpi Presiden Wilson dan New World Order"
Posting Komentar